Breaking News
01:17
Advertisement

Rp100 MILIAR HILANG! Dana Bantuan Dikuras, Kamp Tindouf Penjara yang Menjadi Tambang Emas Elit Wilson Lalengke: TUTUP SEKARANG!

1790270121979
Bagikan
Lihat Tersimpan

Tempur.id.| Geneva, Switzerland – Kebenaran akhirnya mencuat ke permukaan. Di tengah kesunyian yang sengaja dijaga selama puluhan tahun, sebuah skandal keuangan bernilai Rp100 miliar membongkar wajah asli Kamp Tindouf: bukan tempat perlindungan, melainkan mesin pemerasan yang beroperasi di atas penderitaan rakyat.

Perusahaan “Infravest” yang beroperasi di bawah arahan Sallamou Abba Ali sejak 2022 ternyata menjalankan skema Ponzi yang terorganisir rapi. Membangun kepercayaan lewat proyek dan sponsorship, lalu menyedot habis tabungan keluarga-keluarga pengungsi yang paling rentan. Perusahaan bangkrut, uang lenyap, dan rakyat yang menderita justru kehilangan apa yang tersisa.

DI BALIK TEMBOK YANG DIJAGA MILITER SIAPA YANG MELINDUNGI SIAPA?

Pertanyaan paling mengerikan kini melayang: bagaimana perusahaan swasta bisa beroperasi bebas bertahun-tahun di kawasan yang tertutup rapat dan dijaga ketat militer? Tidak ada akses luar, tidak ada pengawasan independen tapi penipuan raksasa bisa berjalan tanpa gangguan selama bertahun-tahun.

Ini bukan sekadar kelemahan pengawasan. Ini adalah dugaan komplotan sistematis. Isolasi Kamp Tindouf bukan untuk melindungi rakyat melainkan untuk melindungi mereka yang mengeruk keuntungan dari penderitaan orang-orang yang mereka sebut “saudara”.

Pedagang, koperasi, dan warga biasa kini berdesakan menuntut pengembalian dana yang tak kunjung kembali. Mereka yang seharusnya dilindungi justru dirampok dua kali: pertama oleh keadaan, kedua oleh mereka yang memegang kendali di dalam kamp itu sendiri.

Uni Eropa, negara-negara donor, dan masyarakat internasional kini bersuara: cukup! Audit independen wajib dilakukan sekarang juga. Dana kemanusiaan bukan dompet pribadi elit manapun.

WILSON LALENGKE: “Ini Kejahatan yang Dibiarkan Terjadi Selama Puluhan Tahun!”

Presiden Persisma, Wilson Lalengke, tak menahan kemarahannya.

“Bantuan kemanusiaan dikirim untuk memberi makan rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya: rakyat dimakan. Mereka dirampok dalam kesunyian yang sengaja dijaga rapat-rapat. Ini bukan sekadar korupsi  ini adalah pengkhianatan yang direncanakan terhadap nyawa manusia.”

Ia menegaskan: Kamp Tindouf yang tertutup rapat adalah akar masalah. Selama rakyat terisolasi tanpa akses bebas, eksploitasi akan terus lahir berulang kali.

“Jangan kirim lebih banyak bantuan sebelum kamp ini diawasi dunia. Solusinya bukan menambah pasokan solusinya adalah menghancurkan kandang penindasan itu sendiri. Bubarkan Kamp Tindouf. Pulangkan rakyatnya ke tanah air mereka di Sahara Maroko, di mana mereka hidup bebas, aman, dan bermartabat. Di sana ada masa depan. Di sini hanya ada penjarahan yang tak pernah berakhir.”

DUNIA HARUS MEMILIH: Diam atau Bertindak?

Desakan kini menggema ke seluruh penjuru: usut tuntas setiap sen yang hilang, seret pelaku ke pengadilan internasional, dan tempatkan rakyat di bawah perlindungan langsung PBB. Tapi di atas segalanya jangan biarkan mereka yang tersandera tetap terkurung di tempat yang justru menyakiti mereka.

“Keadilan tidak bisa menunggu satu hari lagi. Selama Kamp Tindouf masih berdiri, ada orang yang setiap hari kehilangan harapannya. Tutup kamp itu sekarang. Bukan nanti  sekarang,” tegas Wilson Lalengke.

Tim/Redaksi
Dipublikasikan: 25 September 2026

Penulis

admin@tempur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *