Tempur.id.| Masanda, Tana Toraja – Semangat melestarikan kearifan lokal terpancar jelas di Kecamatan Masanda, Kabupaten Tana Toraja. Di tengah gempuran arus globalisasi yang perlahan mengikis penggunaan bahasa daerah, masyarakat dan dunia pendidikan di wilayah ini bergerak maju dengan langkah yang membanggakan.
Festival Tunas Bahasa Ibu sukses digelar dengan penuh semangat, mengajak generasi muda untuk bangga dan mencintai bahasa ibunya sendiri. Kegiatan yang dikemas dalam berbagai lomba ini menjadi wadah kreativitas sekaligus bukti bahwa bahasa daerah bukan peninggalan masa lalu, melainkan jati diri yang harus dijaga dan diwariskan.
ANAK-ANAK BERBICARA DENGAN BAHASA NENEK MOYANG
Festival ini menampilkan beragam perlombaan yang memukau: mulai dari mendongeng kisah-kisah leluhur, menulis cerita pendek, komedi tunggal yang memancing tawa sekaligus makna, hingga pidato persuasif seluruhnya disampaikan menggunakan bahasa Toraja.
Kegiatan ini diikuti oleh 8 Sekolah Dasar (SD) dan 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kecamatan Masanda. Antusiasme peserta terlihat nyata saat mereka berdiri di panggung, berbicara dengan percaya diri menggunakan bahasa ibu mereka.
“Jangan Biarkan Bahasa Kita Hanya Menjadi Sejarah”
Ketua Panitia sekaligus Ketua PGRI Kecamatan Masanda, Zet Sesa Marombe, S.Pd., menyampaikan harapan yang mendalam di hadapan peserta dan undangan yang hadir:
“Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak semakin mencintai bahasa ibu mereka. Bahasa adalah jati diri bangsa. Jika bahasa kita hilang, maka sebagian dari identitas kita pun ikut hilang. Mari jaga agar bahasa Toraja tetap hidup, tidak hanya di buku sejarah, tetapi terucap setiap hari dari mulut generasi muda kita.”
LEBIH DARI SEKADAR LOMBA
Festival Tunas Bahasa Ibu ini bukan sekadar ajang kompetisi. Lebih dari itu, ini adalah gerakan menjaga warisan leluhur. Di era digital saat ini, penggunaan bahasa daerah di lingkungan rumah dan sekolah perlahan menurun. Kegiatan seperti ini menjadi pengingat pentingnya menyeimbangkan penguasaan bahasa nasional dan bahasa asing dengan kebanggaan terhadap bahasa sendiri.
Dengan semangat ini, Kecamatan Masanda telah menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak harus menunggu orang lain memulainya dimulai dari sekolah, dimulai dari anak-anak, dimulai dari hari ini.
Laporan: [madika]
Tempur.id — Tana Toraja
Catatan Redaksi: Melestarikan bahasa daerah adalah menjaga akar kebudayaan bangsa. Semoga semangat dari Masanda ini menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia.





Tinggalkan Balasan