Breaking News
22:26
Advertisement

“Riskul Tona’ Soroti Welem Sambo Langi Diminta Keluar dari Kantor: Warga Ditandu 20 Km Demi Berobat, Sampai Kapan Jalan Desa Mamasa Diabaikan?”

IMG 20261103 221313
Bagikan
Lihat Tersimpan

Tempur.id | Mamasa, Sulawesi Barat — Gema keluhan masyarakat di pelosok Kabupaten Mamasa kini semakin keras terdengar. Aktivis muda sekaligus pemerhati masyarakat, Riskul Tona’, secara tegas menyoroti kepemimpinan Bupati Mamasa, Welem Sambo Langi, meminta agar pemimpin daerah itu tidak hanya berdiam diri di kantor, melainkan turun langsung melihat kenyataan pahit yang dialami warganya.

Seruan itu disampaikan menyusul peristiwa memilukan di Desa Baruru, Kecamatan Aralle, di mana seorang warga yang jatuh sakit terpaksa ditandu sejauh 20 kilometer melewati jalan berbatu dan berlumpur hanya untuk mendapatkan pertolongan medis di Puskesmas Aralle.

Ditandu 20 Kilometer di Jalan Tanpa Perbaikan

Peristiwa berlangsung pada Senin, 2 November 2026. Karena kondisi jalan poros Ralleanak–Baruru yang rusak parah dan tidak dapat dilewati kendaraan roda empat, warga setempat bahu-membahu menggotong tetangganya yang sakit berjalan kaki puluhan kilometer menuju fasilitas kesehatan terdekat.

Kepala Desa Baruru, Rusman, S.M., menyampaikan harapan masyarakat agar akses jalan tersebut segera mendapat perhatian serius:

“Harapan kita ke depan pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap akses jalan. Kami juga berharap perubahan status Jalan Poros Ralleanak–Baruru bisa dijadikan jalan provinsi,” ujar Rusman.

Rizkul Tona’: Welem Sambo Langi Diminta Keluar dari Ruangan Ber-AC

Riskul Tona’ menegaskan bahwa hampir tiga tahun masa jabatan Bupati Welem Sambo Langi seharusnya sudah cukup untuk memperbaiki akses dasar masyarakat, bukan membiarkan warga berjuang sendiri di tengah jalan yang rusak:

“Welem Sambo Langi diminta keluar dari kantor, turun ke lapangan, dan lihat sendiri apa yang dirasakan rakyatnya. Hampir tiga tahun memimpin, jalan desa masih diabaikan. Anggaran dari pusat terus mengalir, tetapi warga justru harus menggotong orang sakit sejauh 20 kilometer. Sampai kapan ini akan terus berulang?” tegas Riskul.

Ia juga menekankan bahwa Desa Baruru dan kawasan sekitarnya bukan daerah terpencil yang tak terjangkau — warganya membayar pajak, mengirim anak ke sekolah, dan berkontribusi pada pembangunan daerah. Mereka berhak atas jalan yang layak dilalui kapan pun, hujan maupun panas.

“Kita mengetahui bahwa cukup banyak anggaran pembangunan dari Pemerintah Pusat yang masuk ke Kabupaten Mamasa. Masyarakat berhak tahu, ke mana dana itu disalurkan jika jalan utama menuju desa mereka belum juga diperbaiki?” tambahnya.

Desakan: Naikkan Status Jalan, Prioritaskan Kebutuhan Warga Paling Pelosok

Riskul Tona’ mendesak agar Pemerintah Kabupaten Mamasa bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat segera melakukan kajian menyeluruh untuk menaikkan status dan memperbaiki Jalan Poros Ralleanak Barru. Jalan itu bukan sekadar akses pertanian  itu adalah jalan kehidupan bagi warga yang membutuhkan layanan kesehatan darurat.

“Sampai kapan warga harus menunggu lebih lama lagi? Jangan biarkan ada nyawa yang terancam hanya karena akses jalan belum dibangun. Keadilan pembangunan harus dirasakan sampai ke desa-desa paling ujung,” ungkapnya.

Pembangunan Bukan Hanya Terlihat di Pusat Kota

Pertanyaan besar kini menggema di tengah masyarakat: apakah janji-janji kampanye Welem Sambo Langi hanya akan menjadi janji manis yang tak pernah terwujud? Warga Desa Baruru dan desa-desa sekitar tidak meminta kemewahan mereka hanya meminta satu hal sederhana: jalan yang aman dan bisa dilalui kapan pun saat mereka membutuhkannya.

Sampai kapan suara mereka hanya dianggap sebagai keluhan yang tak didengar?

(Tim Redaksi Tempur.id)

Catatan Redaksi: Tempur.id telah berupaya menghubungi Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Mamasa serta menghubungi langsung Bupati Mamasa untuk mendapatkan tanggapan terkait isu ini. Pintu tanggapan tetap terbuka seluas-luasnya bagi Pemerintah Kabupaten Mamasa untuk memberikan klarifikasi maupun informasi perkembangan penanganan infrastruktur di wilayah tersebut.

Penulis

admin@tempur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *